cara menggunakan natrium benzoat pada sambal

carapembuatan sambal bajak dalam kemasan gelas atau botol jar. Tahapan formulasi pada penambahan Natrium benzoate merupakan tahap pengendalian kritis, karena menambahkan bahan pengawet makanan. Pengendaliannya adalah penambahan Na-benzoat pada tidak melewati batas maksimum yang diperbolehkan. C. Tahap Pengolahan 1. penstabildan pengawet natrium benzoat. Prosedur Penelitian Proses pembuatan saus sambal ikan Proses pembuatan saus sambal serbuk ikan cakalang asap mengacu pada Dewanti et al., (2010) dan Nataliningsih (2009) yang dimodifikasi. Pembuatan diawali proses penghalusan serbuk ikan cakalang, CaraGuna Sodium Benzoate Dalam Sambal. Bahkan di kemasan makanan yang sering kita beli di pasar, kita akan sering melihat banyak kandungan na dalam komposisi produknyadi belakang. Untuk membuat sambal kemasan yang nikmat membutuhkan bahan baku yakni cabe merah besar, cabe rawit, bawang putih, bawang merah, tomat, gula merah, garam, terasi Berdasarkanhasil praktikum yang dilakukan, yaitu isolasi asam benzoat dengan oksidasi toluen menggunakan KMnO4 didapatkan hasil kristal asam benzoat sebesar 0,171 gr. Pada praktikum kali ini asam benzoat diperoleh dari proses oksidasi toluen menggunakan larutan KMnO4, NaOH 10% dan air. Fungsi larutan ini sebagai larutan 5. Ketikabenzoil klorida direaksikan dengan natrium hidroksida maka akan menghasilkan natrium benzoat dengan HCl. Natrium benzoat biasanya digunakan sebagai bahan pengawet untuk makanan dalam kaleng. Pada reaksi natrium benzoat resonansi yang terjadi ketika delokalisasi terjadi lebih jauh dari muatan Na, sehingga menyebabkan keasaman dari suatu Site De Rencontre Francaise En Ligne. Benzoate is a preservative of food allowed by the Government of Indonesia, but should not exceed the concentration limits its in use. The aims of this research is to analyze and to determine the benzoate compounds content in chili sauce from fried chicken fast food restaurants in Manado. The identification of benzoate compounds was done using FeCl 3 which was characterized with the form of red brown sediment. Analysis of benzoate content using UV-Vis spectrophotometry method with wavelength of 274 nm. The results showed that four samples of chili sauce A, B, C and D were using preservative sodium benzoate in amount of 0,411, 0,454, 0,336 and 0,344 g/kg respectively. The amount of benzoate preservative in samples of chili sauce does not exceed the threshold set out by The Head of National Drug and Food Control Agency of the Republic of Indonesia in 2013 which is 1 g/kg. Figures - uploaded by Sri SudewiAuthor contentAll figure content in this area was uploaded by Sri SudewiContent may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 5 No. 3 AGUSTUS 2016 ISSN 2302 - 2493 48 ANALISIS SENYAWA BENZOAT PADA SAUS SAMBAL DI RUMAH MAKAN AYAM GORENG CEPAT SAJI DI MANADO Ika Purwaningsih1, Sri Sudewi1, Jemmy Abidjulu1 1Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115 ABSTRACT Benzoate is a preservative of food allowed by the Government of Indonesia, but should not exceed the concentration limits its in use. The aims of this research is to analyze and to determine the benzoate compounds content in chili sauce from fried chicken fast food restaurants in Manado. The identification of benzoate compounds was done using FeCl3 which was characterized with the form of red brown sediment. Analysis of benzoate content using UV-Vis spectrophotometry method with wavelength of 274 nm. The results showed that four samples of chili sauce A, B, C and D were using preservative sodium benzoate in amount of 0,411, 0,454, 0,336 and 0,344 g/kg respectively. The amount of benzoate preservative in samples of chili sauce does not exceed the threshold set out by The Head of National Drug and Food Control Agency of the Republic of Indonesia in 2013 which is 1 g/kg. Keywords Benzoate, chili sauce, UV-Vis spectrophotometry, Manado. ABSTRAK Benzoat adalah pengawet makanan yang diizinkan oleh Pemerintah Indonesia, namun tidak boleh melebihi konsentrasi batas penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan senyawa benzoat dan menentukan kadar senyawa benzoat dalam saus sambal di rumah makan ayam goreng cepat saji di Manado. Identifikasi senyawa benzoat dilakukan dengan menggunakan FeCl3 yang ditandai dengan terbentuknya endapan berwarna merah kecoklatan dan penentuan kadar senyawa benzoat dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 274 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat sampel saus sambal A, B, C dan D menggunakan pengawet benzoat secara berurutan sebesar 0,411, 0,454, 0,336, dan 0,344 g/kg. Penggunaan pengawet benzoat pada sampel saus sambal tidak melebihi ambang batas yang telah ditetapkan dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2013 yaitu 1 g/kg. Kata kunci Benzoat, saus sambal, spektrofotometri UV-Vis, Manado. PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 5 No. 3 AGUSTUS 2016 ISSN 2302 - 2493 49 PENDAHULUAN Makanan yang tidak habis dikonsumsi jika dibiarkan, teksturnya akan berubah dan dapat bersifat racun karena pekerjaan mikroba-mikroba yang ada dalam bahan makanan ataupun karena dekomposisi komponen-komponen dalam bahan makanan tersebut yang mungkin menghasilkan senyawa-senyawa yang bersifat toksik. Untuk mencegah perkembangan mikroba-mikroba zat dalam bahan pangan, perlu ditambahkan bahan-bahan tertentu lain sebagai bahan pengawet ke dalam bahan pangan tersebut Tranggono et al dalam Rorong 1996. Bahan tambahan pangan adalah bahan yang dapat mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang sengaja ditambahkan ke dalam pangan untuk tujuan teknologis pada pembuatan, pengolahan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, penyimpanan dan/atau pengangkutan pangan untuk menghasilkan atau diharapkan menghasilkan suatu komponen atau mempengaruhi sifat pangan tersebut, baik secara langsung atau tidak langsung. Salah satu bahan tambahan pangan yang sering digunakan adalah pengawet Anonim, 2012. Pengawet yang banyak dijual di pasaran dan digunakan untuk mengawetkan berbagai bahan pangan adalah benzoat, yang umumnya terdapat dalam bentuk natrium benzoat atau kalium benzoat yang bersifat lebih mudah larut. Benzoat sering digunakan untuk mengawetkan berbagai pangan dan minuman, seperti sari buah, minuman ringan, saus tomat, saus sambal, selai, jeli, manisan, kecap dan lain-lain Cahyadi, 2009. Saus sambal adalah saus yang diperoleh dari bahan utama cabai Capsicum sp yang matang dan baik, dengan atau tanpa penambahan bahan makanan lain dan digunakan sebagai penyedap makanan SNI, 1992. Tingkat keawetan saus sambal sangat ditentukan oleh proses pengolahan yang diterapkan dan jumlah bahan pengawet yang digunakan. Bahan pengawet yang sering digunakan dalam saus sambal adalah benzoat, dengan jumlah maksimum benzoat yang boleh digunakan adalah 1g/kg bahan sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2013 Anonim, 2013. Pembatasan penggunaan benzoat bertujuan agar tidak terjadi keracunan. Mengkonsumsi makanan yang mengandung natrium benzoat tidak berakibat buruk secara langsung, tetapi akan menumpuk sedikit demi sedikit karena diserap dalam tubuh apalagi jika jumlah yang dikonsumsi melebihi batas penggunaannya Triastuti et al., 2013. Konsumsi benzoat di atas batas maksimum dapat menyebabkan kejang-kejang, hiperaktif, serta penurunan berat badan yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian Nurcahyani dalam Sevita, 2013. Saus sambal yang ada di rumah makan ayam goreng cepat saji di Manado tidak mencantumkan komposisi bahan, terutama kadar pengawet benzoat yang digunakan. Saus sambal tersebut dimasukkan ke dalam wadah dan konsumen mengambil sendiri saus sambal tersebut. Hal tersebut menyebabkan kadar senyawa benzoat tidak diketahui jika telah melebihi ambang batas yang ditentukan oleh Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2013. METODOLOGI PENELITIAN PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 5 No. 3 AGUSTUS 2016 ISSN 2302 - 2493 50 Alat Alat-alat yang digunakan yaitu spektrofotometer UV-Vis, timbangan analitik, corong pisah, labu takar, erlenmeyer dan alat-alat gelas. Bahan Bahan-bahan yang digunakan berkualitas proanalisis yaitu saus sambal, natrium benzoat, kloroform, natrium hidroksida, besi III klorida, asam klorida, natrium klorida, ammonium hidroksida, natrium sulfat, akuades, kertas lakmus dan kertas saring. Prosedur Penelitian Preparasi Sampel Sampel saus sambal diambil dari 4 rumah makan ayam goreng cepat saji di Manado yaitu rumah makan A, B, C dan D. Selanjutnya sampel dianalisis di Laboratorium Analisis Farmasi Program Studi Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sam Ratulangi Manado. Perlakuan Sampel Analisis Kualitatif Metode analisis kualitatif menurut AOAC 1990 yang dimodifikasi oleh Rorong 1996. Sebanyak 20 g sampel dimasukkan ke dalam beaker gelas sampai volume 100 mL dengan larutan NaCl jenuh. Selanjutnya sampel ditambahkan dengan larutan NaOH 10% sampai larutan bersifat alkalis, distirer selama 5 menit, dibiarkan semalam dan disaring. Filtrat ditambahkan dengan 2 mL larutan HCl pekat sampai larutan bersifat asam. Larutan asam diekstraksi sebanyak 3 kali dengan kloroform masing-masing 10 mL, selanjutnya ekstrak kloroform dipanaskan pada suhu 80oC di atas penangas air. Residu yang diperoleh dilarutkan dalam akuades dan dipanaskan dalam penangas air selama 10 menit pada suhu antara 80-85oC. Selanjutnya larutan yang diperoleh didinginkan sejenak dan ditambahkan beberapa tetes larutan FeCl3 5%. Apabila terbentuk endapan berwarna salmon atau cincin merah kecoklatan hal itu menunjukkan keberadaan benzoat dalam sampel. Kurva Standar dan Larutan Standar Pembuatan larutan standar didahului dengan pembuatan larutan induk 100 mg/L yang dibuat dengan melarutkan 25 mg natrium benzoat ke dalam kloroform pada labu takar 250 mL. Larutan deret standar dibuat dengan mengambil 1; 2; 3; 4; dan 5 mL dari larutan induk natrium benzoat 100 mg/L ke dalam labu takar 10 mL kemudian masing-masing diencerkan dengan kloroform sampai tanda batas. Konsentrasi larutan standar yang diperoleh berturut-turut ialah 10; 20; 30; 40 ; dan 50 mg/L. Deteksi absorbansi larutan standar pada panjang gelombang 274 nm dengan menggunakan instrumen spektrofotometer UV-Vis. Selanjutnya dibuat kurva standar yang menghubungkan absorbansi dengan konsentrasi dari masing-masing larutan standar. Validasi Metode Analisis a. Penentuan Presisi Dari larutan standar natrium benzoat 100 mg/L dibuat larutan standar dengan konsentrasi 40 mg/L dengan cara seperti pada pembuatan seri konsentrasi pada kurva standar. Larutan standar natrium benzoat dengan konsentrasi 40 mg/L tersebut dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 274 nm. Uji ketelitian ini PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 5 No. 3 AGUSTUS 2016 ISSN 2302 - 2493 51 dilakukan sebanyak lima kali pengulangan. Akurasi Penentuan akurasi dilakukan dengan metode penambahan standar. Pada larutan natrium benzoat yang telah diketahui konsentrasinya ditambahkan larutan standar natrium benzoat 5 mg/L. Kemudian larutan tersebut dibaca absorbansinya menggunakan Spektrofotometer UV-Vis dengan 5 kali pengulangan. Hasil absorbansi digunakan untuk menghitung persen perolehan kembali. c. Penentuan Batas Deteksi LOD dan Batas Kuantitasi LOQ LOD dan LOQ dihitung melalui persamaan garis linier dari kurva kalibrasi, dengan rumus LOD =  LOQ =  Keterangan SB = Simpangan baku respon analitik dari blangko Slope = Arah garis linier kepekaan arah dari kurva antara respon terhadap konsentrasi = slope b pada persamaan garis y = bx + a. Analisis Kuantitatif Metode analisis kuantitatif menurut AOAC 1990 yang dimodifikasi oleh Rorong 1996. Sebanyak 10 gram sampel dipindahkan ke dalam erlenmeyer, kemudian sampel dilarutkan dalam 100 mL larutan NaCl jenuh. Tambahkan beberapa tetes HCl sampai larutan bersifat asam kertas lakmus biru menjadi merah kemudian dicampur dengan baik. Larutan diekstraksi dengan kloroform sebanyak 3 kali masing-masing 30, 20, 10 mL. Hasil ekstraksi dicuci dengan larutan HCl 0,1 % sebanyak 3 kali, masing-masing 25, 20 dan 15 mL. Ekstrak asam diekstraksi lagi dengan larutan NH4OH 0,1 % sebanyak 4 kali masing-masing 25, 20, 15, 10 mL. Hasil ekstraksi diekstraksi dengan kloroform sebanyak 3 kali masing-masing 30, 20, dan 10 mL. Hasil ekstraksi dicuci dengan Na2SO4 dan diencerkan dengan kloroform sampai tanda batas dalam labu takar 100 mL. Larutan hasil ekstraksi dibaca absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 274 nm, kemudian konsentrasi benzoat dalam sampel ditentukan berdasarkan kurva standar. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis kualitatif yang dilakukan terhadap sampel bertujuan untuk menunjukkan adanya senyawa benzoat dalam sampel. Hasil analisis secara kualitatif terhadap adanya benzoat dalam beberapa sampel saus sambal dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil analisis kualitatif terhadap adanya senyawa benzoat dalam beberapa sampel saus sambal. Keterangan + Endapan berwarna merah kecoklatan menandakan keberadaan benzoat dalam sampel. PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 5 No. 3 AGUSTUS 2016 ISSN 2302 - 2493 52 Dilihat dari tabel di atas, semua sampel menunjukkan positif mengandung senyawa benzoat. Hasil analisis kualitatif, ditandai dengan terbentuknya endapan berwarna salmon atau terdapat cincin berwarna merah kecokelatan Rorong, 2013. Pada sampel saus sambal sebanyak 20 g ditambahkan larutan NaCl jenuh yang bertujuan untuk memecahkan emulsi saus sambal, karena dengan adanya penambahan elektrolit maka dapat terjadi pemecahan emulsi Sumarauw et al., 2013. Pengadukan dilakukan pada perlakuan selanjutnya berfungsi untuk membuat larutan menjadi homogen. Setelah larutan dibiarkan semalam, partikel-partikel terdispersi yang tidak larut dalam air seperti lemak akan dapat mengendap dalam bentuk garam asam lemak. Penyaringan dilakukan agar partikel-partikel yang tidak larut dalam air dapat dipisahkan dari larutan. Benzoat akan berada dalam larutan air pada filtrat dalam bentuk garam Cahyadi, 2006. Larutan ekstrak kloroform yang ditambahkan dengan reagen FeCl3 5 % menghasilkan endapan salmon atau cincin merah kecoklatan, hal ini dapat terjadi karena adanya reaksi ikatan antara 3 buah ion benzoat dari asam benzoat dengan ion ferri Fe3+ dari ferriklorida yang membentuk senyawa khelat ferribenzoat dengan molekul asam klorida, menurut reaksi C6H5COOH + FeCl3 FeC6H5COO3 + 3HCl Endapan merah kecoklatan Kurva Standar dan Linieritas Dalam penelitian ini kurva standar diperoleh dengan cara membuat seri konsentrasi 10, 20, 30, 40 dan 50 mg/L dari larutan standar natrium benzoat 100 mg/L sehingga diperoleh hasil absorbansi versus konsentrasi pada panjang gelombang 274 nm. Gambar 1. Kurva standar natrium benzoat dalam pelarut kloroform Persamaan kurva kalibrasi merupakan hubungan antara sumbu x dan sumbu y. Sumbu x dinyatakan dengan konsentrasi yang diperoleh sedangkan sumbu y merupakan absorbansi atau serapan yang diperoleh dari hasil pengukuran sehingga persamaan regresi linier dari kurva kalibrasi yang diperoleh adalah y = 0,0095x – 0,0398 dengan koefisien korelasi r = 0,9996. Harga y = - r = 00,10,20,30,40,5020 40 60Absorbansi Konsentrasi mg/L AbsorbansiLinear Absorbansi PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 5 No. 3 AGUSTUS 2016 ISSN 2302 - 2493 53 koefisien korelasi r yang mendekati 1 menyatakan hubungan yang linier antara konsentrasi dengan serapan yang dihasilkan, dengan kata lain peningkatan nilai absorbansi analit berbanding lurus dengan peningkatan konsentrasinya yang sesuai dengan kriteria penerimaan koefisien korelasi r yang baik menurut Shargel 1985 adalah r ≥ 0,9970. Validasi Metode Analisis Presisi Presisi diukur sebagai simpangan baku atau simpangan baku relatif koefisien variasi berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap replikasi sampel yang diambil dari campuran yang homogen Harmita, 2004. Metode dapat menghasilkan nilai rata-rata yang sangat dekat dengan nilai sebenarnya dengan simpangan baku SD dan koefisien variasi KV sebagai parameter ukur. Adapun hasil perhitungan simpangan baku SD dari data yang diperoleh dan 5 kali replikasi pada konsentrasi 40 mg/L sebesar 0,0026 dengan nilai koefisien variasi KV sebesar 0,0064%. Menurut Harmita 2004, nilai koefisien variasi < 2% menunjukkan bahwa metode tersebut memberikan presisi yang baik, sehingga ketelitian alat yang diperoleh yaitu 99,99%. Data hasil percobaan dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Data hasil uji presisi ketelitian pada larutan standar Akurasi Akurasi dapat ditentukan dengan 2 cara yaitu, metode simulasi spiked - placebo recovery atau dengan metode penambahan baku standart addition method seperti yang digunakan pada penelitian ini. Dalam metode penambahan baku, dilakukan dengan membuat larutan konsentrasi 30 mg/L dengan 5 kali pengulangan kemudian dibaca absorbansinya sebelum dan setelah penambahan konsentrasi larutan standar natrium benzoat 5 mg/L. Setelah perhitungan, maka nilai rata – rata % recovery yang diperoleh sebesar 92,21%. Persen perolehan kembali ini dapat diterima karena memenuhi syarat akurasi yaitu pada rentang rata - rata persen perolehan kembali 80 – 110 % Harmita, 2004.Tabel 3. Data hasil uji akurasi ketepatan pada larutan standar Absorbansi setelah + Konsentrasi setelah + mg/L PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 5 No. 3 AGUSTUS 2016 ISSN 2302 - 2493 54 Keterangan Absorbansi awal absorbansi larutan standar 30 mg/L Absorbansi setelah + larutan standar absorbansi larutan standar 30 mg/L + larutan standar 5 mg/L Batas Deteksi LOD dan Batas Kuantifikasi LOQ Uji batas deteksi dan batas kuantifikasi dilakukan untuk mengetahui batas deteksi dan batas kuantifikasi terendah dari larutan natrium benzoat yang masih dapat menghasilkan data dengan akurasi dan presisi yang baik. Setelah mendapatkan kurva kalibrasi yang memenuhi persyaratan analisis, selanjutnya data yang diperoleh dari konsentrasi tiap analit yang memberikan absorbansi berbeda diolah untuk menentukan batas deteksi LOD dan batas kuantifikasi LOQ. Batas deteksi yang diperoleh adalah 2,231 mg/L sedangkan batas kuantifikasi yang diperoleh 7,737 mg/L. Analisis Kuantitatif Penentuan kadar senyawa benzoat dalam sampel dilakukan dengan pengukuran absorbansi larutan sampel. Konsentrasi X senyawa benzoat dalam sampel diperoleh dengan cara mensubsitusikan nilai absorbansi larutan sampel terhadap y pada persamaan y = 0,0095x – 0,0398. Tabel 4. Hasil pengukuran konsentrasi senyawa benzoat ekstrak sampel saus sambal Keterangan X = Konsentrasi senyawa benzoat dalam sampel saus sambal X = Konsentrasi rata-rata senyawa benzoat dalam sampel saus sambal Penentuan konsentrasi yang terdapat dalam sampel saus sambal dapat dilihat dari jumlah konsentrasi rata-rata sampel yang merupakan jumlah konsentrasi senyawa benzoat yang terkandung dalam 10 gram bahan saus sambal yang diperoleh berdasarkan pembacaan absorbansi dari 100 mL hasil ekstrak terakhir dalam rangkaian prosedur analisis kuantitatif. Konsentrasi senyawa benzoat dalam 10 gram bahan dari 100 mL dikonversikan kedalam satuan mg/kg, PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 5 No. 3 AGUSTUS 2016 ISSN 2302 - 2493 55 dimana 1 kilogram bahan sama dengan 10 gram bahan dikalikan 100 Cahyadi, 2006. Berdasarkan Tabel 4, konsentrasi senyawa benzoat dalam sampel saus sambal A, B, C dan D yaitu 0,411 ; 0,454 ; 0,336 ; dan 0,344 g/kg menunjukkan kadar senyawa benzoat tidak melebihi ambang batas menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2013 dalam saus sambal yaitu 1g/kg. Penelitian ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat bahwa saus sambal A, B, C dan D pada rumah makan ayam goreng cepat saji di Manado tidak membahayakan kesehatan masyarakat dan aman untuk dikonsumsi. KESIMPULAN sambal di rumah makan ayam goreng cepat saji di Manado mengandung senyawa benzoat. benzoat pada saus sambal di rumah makan ayam goreng cepat saji di Manado adalah A 0,411 g/kg ; B 0,454 g/kg ; C 0,336 g/kg ; D 0,344 g/kg. Kadar tersebut tidak melebihi ambang batas penggunaan senyawa benzoat yang telah ditentukan dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2013. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2012. Peraturan Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan. Menteri Kesehatan RI, Jakarta. 2013. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2013 Tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pengawet. Badan Pengawas Obat dan Makanan, Jakarta. Cahyadi, Wisnu. 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Bumi Aksara, Jakarta. 2009. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Edisi Kedua. Cetakan Kedua. Bumi Aksara, Jakarta. Harmita, 2004. Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya. Departemen Farmasi FMIPA-UI, Jakarta. Helrich, K. 1990. Official Methods Of Analysis, 15 ed. Association Of Official Analytical Chemists Inc. Boulevard-Arlington-Virginia, USA. Nurcahyani. 2005. Analisis Kadar Natrium Benzoat dan Jenis Zat Aditif Pewarna Pada Saus Tidak Bermerk di Pasar Dinoyo Malang. [Skripsi]. FMIPA Universitas Muhammadiyah Malang, Malang. Nurhayati, Siadi, K., dan Harjono, 2012, Pengaruh Konsentrasi Natrium Benzoat Dan Lama Penyimpanan Pada Kadar Fenolat Total Pasta Tomat, Indonesian Journal Of Chemical Science. 1 2 159-162. PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 5 No. 3 AGUSTUS 2016 ISSN 2302 - 2493 56 Rorong, 1996. Analisis Asam Benzoat dan Sorbat Sebagai Bahan Tambahan Pangan Secara Spektrofotometri. [Thesis]. Program Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta. 2013. Analisis Asam Benzoat Dengan Perbedaan Preparasi Pada Kulit dan Daun Kayu Manis. Jurnal Kimia. 6 2. 83. Sevita, V., Suhanda, H., dan Zackyah 2013. Pengembangan Metode Penentuan Kadar Natrium Benzoat Secara Spektrofotometri UV dalam Jamur Kancing Kemasan Plastik. Jurnal Sains dan Teknologi Kimia. 4 2. Shargel, L. 1985. Biofarmasetika dan farmakokinetika Terapan. Penerjemah Fasich. Edisi kedua. Penerbit Universitas Erlangga, Surabaya. Standar Nasional Indonesia SNI. 1992. SNI 01-2976-1992 Untuk Saus Cabe. Badan Standarisasi Nasional, Jakarta. Sumarauw, W., Fatimawali., dan Yudistira, A., 2013. Identifikasi dan Penetapan Kadar Asam Benzoat Pada Kecap Asin yang beredar di Kota Manado. Jurnal Ilmiah Farmasi. 21 12-17 Tranggono., Sudarmadji., dan Rahayu, Bahan Tambahan Pangan. Cet. l, PAU Pangan dan Gizi UGM, Yogyakarta. Triastuti, E., Fatimawali., dan Runtuwene , 2013, Analisis Boraks Pada Tahu yang Diproduksi Di Kota Manado. Jurnal Ilmiah Farmasi. 2 1. Nurul RahmaniaArmini HadriyatiMuklis SanuddinAbstrakSaos merupakan salah satu produk olahan makanan yang digunakan sebagai bahan penyedap makanan. Saos terbagi menjadi dua macam yaitu saos sambal dan saos tomat. Natrium benzoat merupakan pengawet dalam makanan yang jika dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka panjang dapat menyebabkan karsinogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat kandungan pengawet dan berapa jumlah kadar pengawet natrium benzoat dalam saos yang diproduksi di Kota Jambi. Pengujian sampel yang dilakukan yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif dengan Spektrofotometeri UV-Vis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar pengawet pada kode A saos sambal dan kode B saos tomat yang dijual pada pasar angso duo, keluarga, simpang pulai dan talang banjar melebihi batas yang telah ditentukan oleh BPOM RI No 36 Tahun 2013 yaitu 1g/kg berat kunci Saos Sambal, Saos Tomat, Natrium Benzoat, Spektrofotometri UV-VisDara Afifah AzmiElmatris ElmatrisFachzi FitriBahan pengawet yang sering digunakan pada produk pangan adalah natrium benzoat, salah satu contohnya adalah pada saus cabai. Jumlah natrium benzoat pada pangan harus diperhatikan karena berdasarkan Peraturan Kepala BPOM No. 36 Tahun 2013, batas maksimal penggunaan natrium benzoat pada pangan adalah 1 g/kg. Tujuan Mengidentifikasi natrium benzoat pada saus cabai yang dijual di beberapa pasar di Kota Padang. Metode Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Sampel diambil dengan teknik total sampling, ditemukan sebanyak 10 sampel sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Identifikasi kualitatif kandungan natrium benzoat dilakukan dengan menggunakan reaksi FeCl3 dan penetapan kadar natrium benzoat pada sampel dilakukan dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Visible. Hasil Semua sampel saus cabai yang dijual di beberapa pasar di Kota Padang mengandung natrium benzoat kadar rata-rata 0,150 g/kg. Kadar natrium benzoat pada semua sampel 100% saus cabai diperbolehkan oleh BPOM ≤ 1 g/kg. Simpulan Semua sampel saus cabai yang diteliti mengandung natrium benzoat dengan kadar yang tidak melebihi batas maksimal yang telah Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan PanganAnonimAnonim. 2012. Peraturan Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2013 Tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pengawet. Badan Pengawas Obat dan MakananR I Menteri KesehatanMenteri Kesehatan RI, Jakarta. 2013. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2013 Tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pengawet. Badan Pengawas Obat dan Makanan, dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan PanganWisnu CahyadiCahyadi, Wisnu. 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Bumi Aksara, Jakarta. 2009. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Edisi Kedua. Cetakan Kedua. Bumi Aksara, Kadar Natrium Benzoat dan Jenis Zat Aditif Pewarna Pada Saus Tidak Bermerk di Pasar Dinoyo MalangNurcahyaniNurcahyani. 2005. Analisis Kadar Natrium Benzoat dan Jenis Zat Aditif Pewarna Pada Saus Tidak Bermerk di Pasar Dinoyo Malang. [Skripsi]. FMIPA Universitas Muhammadiyah Malang, Konsentrasi Natrium Benzoat Dan Lama Penyimpanan Pada Kadar Fenolat Total Pasta TomatSiadi NurhayatiK DanNurhayati, Siadi, K., dan Harjono, 2012, Pengaruh Konsentrasi Natrium Benzoat Dan Lama Penyimpanan Pada Kadar Fenolat Total Pasta Tomat, Indonesian Journal Of Chemical Science. 1 2 Asam Benzoat dan Sorbat Sebagai Bahan Tambahan Pangan Secara SpektrofotometriJ A RorongRorong, 1996. Analisis Asam Benzoat dan Sorbat Sebagai Bahan Tambahan Pangan Secara Spektrofotometri. [Thesis].Pengembangan Metode Penentuan Kadar Natrium Benzoat Secara Spektrofotometri UV dalam Jamur Kancing Kemasan PlastikV SevitaH SuhandaZackyah DanSevita, V., Suhanda, H., dan Zackyah 2013. Pengembangan Metode Penentuan Kadar Natrium Benzoat Secara Spektrofotometri UV dalam Jamur Kancing Kemasan Plastik. Jurnal Sains dan Teknologi Kimia. 4 2.Biofarmasetika dan farmakokinetika TerapanL ShargelShargel, L. 1985. Biofarmasetika dan farmakokinetika Terapan. Sambal dalam kemasan sumber Bagi masyarakat Indonesia, makan tanpa sambal rasanya seperti sayur tak bergaram. Untuk memenuhi kebutuhan sambal di rumah, saat ini banyak produsen sambal yang menjual dalam bentuk kemasan. Meskipun sambal kemasan terbilang tahan lama, bagaimana cara mengawetkannya agar lebih tahan lama lagi? Sambal kemasan merupakan salah satu inovasi bisnis yang berkembang pesat. Pasalnya, makanan olahan lokal tersebut sudah menjadi salah satu kebutuhan pangan wajib yang harus ada di meja makan. Meskipun sambal kemasan sudah mengandung natrium benzoat sebagai pengawetnya, tak jarang banyak produk yang mulai berjamur.[1] Apalagi jika Anda meletakkannya di tempat secara terbuka. Untuk itu, Anda bisa melakukan beberapa cara agar sambal kemasan Anda bisa bertahan lebih lama. Tambahkan Aluminium Foil Sebelum Anda membeli sambal kemasan, perhatikan jenis wadah yang dipakai. Jika Anda membeli sambal kemasan botol plastik atau kotak plastik, maka Anda harus menambahkan aluminium foil sebagai pelapis bagian atasnya. Meskipun sambal kemasan sudah memiliki tutup botol sendiri, aluminium foil akan menjaga kandungan dan ketahanan sambal. Sehingga, sambal tidak mudah berjamur saat diletakkan di atas meja makan. Jika Anda memilih sambal kemasan dengan wadah kaca atau plastik tebal dengan warna agak gelap, maka Anda tidak perlu menambahkan aluminium foil. Hal ini karena kaca dan plastik kualitas premium sudah cukup bisa melindungi komposisi dan kualitas sambal. Sehingga, walaupun Anda meletakkannya di ruang dengan suhu normal, sambal tidak mudah berjamur. Tutup aluminium foil twitter risingpack Simpan Sambal di Lemari Pendingin Seperti yang kita ketahui, menyimpan bahan makanan di lemari pendingin akan lebih awet, termasuk sambal kemasan. Sambal kemasan siap saji bisa disimpan di lemari pendingin sebelum dipakai. Hawa yang sejuk dan suhu yang di bawah normal, akan membuat bakteri serta mikroorganisme pada sambal menjadi non reaktif. Bisa dibilang, ini adalah cara untuk memperlambat proses pembusukan. Sekadar tips, saat Anda memasukkan sambal kemasan ke dalam kulkas, sambal bisa diletakkan di wadah yang tertutup. Ini berlaku pada sambal kemasan pouch atau kemasan sachet. Sehingga, mau tak mau Anda harus memindahkan sambal sachet atau pouch ke dalam wadah lainnya. Namun, akan lebih baik jika Anda memindahkannya ke dalam toples atau botol sambal. Dipanaskan dan Dikemas Ulang Tidak semua sambal kemasan mengandung natrium benzoat, khususnya sambal rumahan. Bagi Anda yang membeli sambal kemasan homemade, sebaiknya Anda memperhatikan proses pengemasan dan komposisinya. Sambal yang 100% tidak mengandung MSG dan pengawet memang produk yang baik, namun produk seperti ini tidak bisa bertahan lama atau mudah berjamur. Supaya sambal kemasan seperti ini bisa tahan lebih lama, Anda tidak perlu menambahkan natrium benzoat. Cukup panaskan sambal pada api sedang selama 10 menit, dan masukkan ke dalam toples kaca yang sudah disterilkan. Cara mensterilkan wadah kaca tidaklah sulit, Anda hanya perlu merebus toples ke dalam air yang mendidih selama 3 menit. Setelah toples dalam keadaan suhu normal, masukkan sambal dan tutup wadahnya hingga rapat. Ilustrasi memanaskan sambal sumber Masukkan ke Wadah Kedap Udara Bagi Anda pencinta sambal, sayang sekali jika setelah membeli sambal kemasan namun dibiarkan begitu saja, apalagi untuk sambal sachet. Agar sambal tidak dihinggapi serangga atau berjamur, Anda perlu mengawetkannya. Cara mengawetkan sambal kemasan sachet memang ada banyak, salah satunya dengan mengemasnya kembali ke wadah kedap udara. Salah satu wadah kedap udara yang praktis dan murah, yaitu plastik klip. Plastik yang dilengkapi pengunci pada bagian atasnya tidak akan membuat udara masuk dengan mudah. Karena udara tidak mudah masuk, maka bakteri atau serangga dari luar juga tidak ikut hinggap di sambal. Ini yang membuat sambal menjadi lebih awet dan tahan lama. Itulah berbagai cara untuk mengawetkan sambal kemasan. Selain itu, bagi Anda yang suka menimbun sambal homemade di rumah, bisa mencoba meletakkannya di lemari pembeku. Sambal yang beku dengan tekstur keras juga lebih awet dan tahan lama. Untuk mengonsumsi sambal yang sudah dibekukan pun tidak sulit, Anda hanya perlu memanaskannya terlebih dahulu agar teksturnya lebih lembek. [1] Dewi, Kade Ayu Yasinta, dkk. 2019. Penetapan Kadar Pengawet Natrium Benzoat pada Sambal Kemasan secara Spektrofotometri UV-VIS. Jurnal Ilmiah Medicamento. Vol. 51 39-44. Sodium benzoate adalah jenis pengawet makanan yang biasa dan garam natrium asid benzoik. Pengilang makanan membuat natrium benzoat dengan mensintesis sebatian, natrium hidroksida dan asid benzoik, bersama-sama. Di samping penggunaannya sebagai pengawet makanan, natrium benzoat mempunyai peranan lain dalam pengeluaran makanan. Terdapat beberapa kesan sampingan yang berkaitan dengan penggunaan natrium benzoat yang berlebihan dalam makanan, jadi berbincang dengan doktor anda untuk memastikan anda tidak meminum dos pengawet yang berbahaya. Video Hari Mekanisme Pemeliharaan Makanan -> Wanita membaca label makanan Natrium benzoat mengekalkan makanan dengan mempunyai ciri-ciri anti-kulat, melindungi makanan dari pencerobohan oleh kulat yang menyebabkan makanan merosakkan dan berpotensi membuat anda sakit. Sodium benzoate berfungsi dengan memasukkan sel-sel individu dalam makanan dan mengimbangi paras pHnya, meningkatkan keasidan keseluruhan makanan. Dengan menurunkan pH intraselular makanan tertentu, natrium benzoat menghasilkan persekitaran di mana kulat tidak dapat tumbuh dan menyebar. Minuman Lembut -> Soda dalam kaca Menurut Program Antarabangsa mengenai Keselamatan Kimia, natrium benzoat banyak digunakan oleh industri minuman ringan kerana permintaan sirap jagung fruktosa tinggi dalam minuman berkarbonat. Natrium benzoat meningkatkan keasaman minuman ringan, yang juga meningkatkan intensiti rasa yang anda dapatkan dari sirap jagung fruktosa tinggi. Di belakang soda boleh, anda dapat mencari natrium benzoat dalam senarai ramuan sebagai E211, yang merupakan jumlah yang diberikan kepadanya sebagai aditif makanan. Makanan Lain -> Bowl of pickles Sodium benzoate terutamanya ditambah kepada makanan berasid untuk meningkatkan rasa mereka. Ia boleh didapati dalam makanan seperti jeruk, sos, jem dan jus buah-buahan. Makanan yang mengandungi cuka, seperti salad dressing, biasanya mengandungi natrium benzoat yang sangat tinggi. Benzene, yang terdahulu untuk natrium benzoat, boleh didapati dalam jumlah yang sangat kecil secara semulajadi dalam beberapa buah-buahan, sayur-sayuran, daging, produk tenusu dan juga air minuman. Kesan Sampingan -> Lelaki bercakap dengan doktor Sodium benzoate, apabila digabungkan dengan vitamin C, membentuk benzena. Benzene adalah karsinogen dan diketahui menyumbang kepada pembentukan pelbagai jenis kanser. Walau bagaimanapun, Pentadbiran Makanan dan Dadah menyatakan bahawa produk makanan yang mengandungi kedua-dua vitamin C dan natrium benzoat mengekspresikan tahap benzena yang berada di bawah batas berbahaya. Bercakap dengan doktor anda tentang natrium benzoat, terutamanya jika anda mengambil banyak makanan dan minuman yang mengandungi bahan makanan tambahan yang tinggi.

cara menggunakan natrium benzoat pada sambal